Most Recent

Pelaut Indonesia "Tragisnya Nasibmu"
"Nenek moyangku seorang pelaut"
Sebagian besar orang Indonesia pasti familiar dengan lagu ini yang menganggap bahwa nenek moyang dari Bangsa Indonesia adalah merupakan Pelaut. Wajar saja, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak pulau dan perairan yang cukup luas.
Pelaut merupakan suatu bidang pekerjaan yang penuh dengan resiko tinggi. Resiko dari pekerjaan ini lebih besar dari resiko semua jenis pekerjaan di darat. Keterampilan, Fisik dan mental yang kuat wajib dimiliki oleh seorang pelaut. Di Indonesia sendiri memiliki banyak tenaga Pelaut yang terambil, diseluruh perairan di Indonesia banyak terdapat kapal-kapal niaga yang diawaki oleh pelaut Indonesia bahkan tidak sedikit pula yang mengawaki kapal dari negara luar. Namun demikian, apakah profesi dari Pelaut itu sendiri menjanjikan? Apakah seluruh Pelaut Indonesia itu sejahtera?
Dalam kesempatan ini penulis ingin memaparkan sedikit mengenai keyataan tragis dari pelaut Indonesia. Semua Pelaut Indonesia memiliki sertifikat yang sama, bertuliskan departemen perhubungan dan berlambang Garuda. Namun kesamaan itu tidak berlaku saat didunia kerja. Untuk pelaut Indonesia yang bekerja di kapal perusahaan luar negeri, paling tidak untuk seorang perwira terakhir dengan ijazah kompetensi tingkat III, dapat memperoleh gaji minimal U$ 1500. Bandingkan dengan pelaut Indonesia yang bekerja di kapal dalam negeri, Perwira terakhir dengan ijazah tingkat III ada yang mendapat gaji Rp. 5.000.000,- begitupula untuk tingkatan ABK. Di perusahaan luar negeri yang bonafit, seorang juru mudi minimal mendapatkan gaji pokok antara U$ 600 - U$ 900 diluar dari tunjangan dan bonus. Namun untuk ABK di kapal dalam masih banyak yang mendapatkan gaji dibawah UMR bahkan dibawah upah dari PRT. Apakah layak Indonesia menyebut sebagai negara maritim? sedangkan kesejahteraan pelautnya jauh dari ekspektasi orang awam selama ini.
Memang telah ada peraturan MLC 2006 yang membahas masalah kesejahteraan pelaut, tapi apakah Indonesia sudah meratifikasinya? Sampai detik ini hanya amandemen peraturan mengenai sertifikasi untuk pelaut yang diikuti.
Ada beberapa media pemberitaan yang menyatakan bahwa gaji Pelaut besar dan menggiurkan serta profesi dari Pelaut itu sendiri menjanjikan. Menjanjikan bagaimana? menjanjikan untuk menjadi "sapi perah"?. Penulis tegaskan bahwa itu semua berlaku hanya jika pelaut Indonesia berlayar dikapal perusahaan luar negeri bukan kapal lokal dengan kata lain, di negeri orang kita dihargai namun di negeri sendiri kita diabaikan.  Padahal, Disamping itu, Pelaut Indonesia dipusingkan dengan masalah sertifikat. Sertifikat untuk pelaut terus ada perubahan dan penambahan, bahkan setiap 5 tahun sekali sertifikat yang para Pelaut miliki wajib direvalidasi. Layaknya SIM motor atau SIM mobil yang wajib diperpanjang setiap 5 tahun sekali.
Perlu adanya reformasi dari segi peraturan dan segala hal tentang Pelaut Indonesia, untuk meningkatkan kesejahteraan Pelaut Indonesia itu sendiri agar slogan "Indonesia segabai negara maritim" sangat layak untuk disematkan.

Best Seafarer Wednesday, 13 July 2016
Analisa Terhadap Potensi Bahaya Tubrukan Di Laut

Dalam bernavigasi, pada saat jaga laut terutama pada malam hari pengamatan yang baik dari perwira jaga yang bertugas harus terus dilakukan. Hal ini untuk menghindarkan kapal dari bahaya-bahaya navigasi terutama tubrukan dengan kapal lain. Dalam kesempatan ini penulis memaparkan mengenai analisa terhadap situasi dalam upaya mencegah terjadinya bahaya tubrukan dilaut yang mana tealah dijabarkan pada Colreg (collision of regulation) atau P2TL.
Tanda-tanda dimana kapal berada dalam posisi yang memungkinkan akan terjadi tubrukan diantaranya:

1. Apabila kapal dilengkapi dengan peralatan ARPA, maka pada layar ARPA akan menampilkan data dari kapal yang berpotensi akan bertubrukan dengan kapal kita. Perhatikan besarnya nilai dari CPA (closest point of approaching). Butalah nilai CPA sebesar mungkin untuk menghindari tubrukan dengan cara merubah haluan, dsb.

2. Perhatikan perubahan baringan dari kapal yang berpotensi bertubrukan dari kapal kita. Apabila tidak ada perubahan baringan atau perubahan dari baringan tersebut terlalu kecil maka kemungkinan terjadi tubrukan semakin besar. Cara melakukan pengamatan baringan tersebut bisa menggunakan Radar ataupun dengan menggunakan kompas, baik itu gryo maupun magnetic.

3. Utamakan komunikasi dengan kapal yang kita anggap dalam situasi yang riskan dan dapat terjadi tubrukan. Selalu pantau pergerakan dan perubahan dari posisi kapal.

4. Apabila timbul keragu-raguan maka potensi untuk terjadinya tubrukan bisa terjadi. Laporkan kepada Nakhoda atau perwira lain maupun crew kapal yang cakap dalam mengatasi masalah tersebut.

Demikian beberapa hal yang bisa penulis sampaikan, semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Best Seafarer Tuesday, 12 July 2016
Cara Membuat Rute Pada GPS WAAS
GPS adalah salah satu perangkat yang paling vital dalam navigasi diatas kapal. GPS dapat menentukan posisi kapal dengan menunjukan koordinat berupa lintang dan bujur, kecepatan dan haluan kapal. Pada kapal-kapal niaga Indonesia yang dimana belum dilengkapi dengan perangkat ECDIS, peran GPS sangat vital sebagai contoh GPS WAAS yang mayoritas digunakan untuk menunjukan track atau haluan yang harus ditempuh oleh kapal sehingga kapal dapat sampai ke tempat tujuan sesuai dengan haluan yang direncanakan dan kapal berlayar dengan aman.
dalam hal ini penulis hendak menerangkan secara singkat cara membuat rute pada GPS WAAS seri FURUNO sehingga semua para pelaut familiar mengenai cara pengoperasian dari alat tersebut.
Langkah-langkah untuk membuat sebuah rute pada GPS adalah sebagai berikut :
1. Siapkan waypoint yang telah dibuat sebelumnya.
    Untuk mendapatkan waypoint ini, dalam hal ini yang bertanggung jawab adalah Mualim 2 harus membuat rute diatas peta laut dan menentukan waypoint, harus diperhatikan juga dalam membuat sebuah track selalu mengutamakan keamanan dari jalur pelayaran yang dilayari dan juga efisien. Waypoint sendiri adalah titik koordinat dimana haluan yang dituju berakhir atau titik permulaan dari haluan yang akan dilayari. Contoh dari waypoint : 06* 03,838' S - 106* 57,346' E

2. Nyalakan GPS dengan menekan tombol Power

3. Tekan tombol menu dan masuk terlebih dahulu ke menu Waypoint
    Buat Waypointnya, ganti nama waypoint terlebih dahulu. Sebagai catatan untuk memberi nama waypoint disarankan menggunakan nama-nama yang tertera dipeta yang terdekat dengan titik waypoint tersebut. Bisa berupa nama pulau, tanjung, karang atau lainnya. Rubah nilai koordinat sesuai dengan waypoint yang hendak dibuat. Gunakan tombol crusor pada GPS.

4. Lanjut ke menu Rute. Masuk ke Menu dan pilih Rute
   Ganti nama rute sesuai dengan rute yang dihendaki misal pelayaran dengan tujuan gresik dan tempat tolak dari Grogot. Jadi rubah nama rute yang hendak dibuat menjadi Grogot -- Gresik. Langkah selanjutnya masukan waypoint yang telah dibuat sebelumnya ke kolom rute yang kosong. Catatan: Pemasukan waypoint pada penyusunan rute ini harus berurut sesuai dengan yang terrencana dipeta. Setelah semua selesai kemudian keluar dari menu utama.

5. Untuk menggunakan rute ini dalam pelayaran sebagai patokan track agar kita berlayar dengan aman dan menuju ke tempat tujuan sesuai dengan haluan yang direncanakan, pada GPS tekan tombol Go to lalu pilih rute yang telah dibuat dan sesuai dengan rencana pelayaran.

Catatan: Untuk mengeksekusi program gunakan tombol ENT. Pada menu Go To saat kita memilih rute akan muncul pilihan TERUSKAN atau KEMBALI, maksudnya TERUSKAN berarti rute yang kita gunakan dimulai dari waypoint teratas atau dalam display rute dimulai dari no. 1 dan maksud dari KEMBALI adalah rute dan haluan yang ditunjukan dalam layar GPS itu dimulai dari waypoint terakhir dari rute tersebut dan kebalikan dari TERUSKAN.

Demikian yang bisa penulis sampaikan, apabila ada kesalahan penulis memohon maaf. kritik dan saran penulis harapkan untuk perbaikan dimasa yang akan datang

Best Seafarer Sunday, 10 July 2016